Husni Mubarak, diktator yang berkuasa di Mesir lebih dari
30 tahun akhirnya divonis bebas dari tuduhan-tuduhan yang dihadapkan kepadanya.
Walaupun militer mengusulkannya menjadi tahanan rumah, banyak pihak
mengomentarinya sekadar lelucon saja.
Bebasnya Mubarak memang membuka semua kedok kerusuhan dan
demonstrasi menentang Presiden Mursi. Di antara tujuan demonstrasi tersebut
adalah membebaskan Mubarak dan mengembalikan rejim lama berkuasa.
Dr. Yusri Hamad, wakil ketua partai salafi Al-Wathan mengatakan
bahwa bebasnya Mubarak harus membuka mata seluruh partai. Seluruh kekuatan
politik di Mesir harus bersatu melawan kembalinya rejim lama.
Menurutnya, seluruh kekuatan harus melupakan
perbedaan-perbedaan politik agar tidak semua perahu tenggelam.
Pihak Islam sendiri harus mencari solusi bijak dalam
mempersatukan kembali partai-partai revolusi, karena rejim lama sudah kembali
dengan baju barunya. Yang dimunculkan memang tokoh-tokoh alternative, tapi misi
yang dibawa tetap sama.
Menanggapi hal yang sama, aliansi pemuda revolusi Tunis
mengirimkan surat terbuka di media ansarportsaid.net berisi:
“Wahai pemuda Mesir Revolusi, sungguh memalukan mereka
mencuri revolusi kalian dengan cara yang sangat menghinakan..
Sungguh memalukan, kalian begitu cepat melupakan para
syuhada revolusi. Sungguh memalukan kalian serahkan Mesir kepada mafia
pengkhianat.
Sungguh memalukan anti revolusi kembali dengan begitu
cepat; merubah konstitusi, membebaskan para penjahat yang mencuri negeri kalian
beberapa dekade.
Sungguh memalukan saat kami dengar berita
dibebaskannya Mubarak yang membuat rakyat Mesir menderita, yang membuat
tokoh-tokoh Mesir tak berdaya.
Lupakanlah konflik dengan Ikhwan. Lupakanlah Mursi dan
Mursyid. Saat ini kalian harus membela kebebasan kalian yang telah dirampas.
Belalah revolusi kalian. Kembalilah turun ke jalan.
Rebut kembali revolusi kalian.” (msa/aps/dkw)