'Ied kita di sini ditandai dengan sejuta kembang api,
mercon, bedug, takbir, dan baju baru. 'Ied kita di sini dipenuhi senyum suka
cita. Kegembiraan bertalu-talu di hati kita. Anak-anak kita menangis bukan
karena sedih. Tangisan mereka karena ingin segera dibelikan baju baru, celana
baru, dan sepatu baru. Rumah-rumah kita penuh dengan ketupat, daging, kue, dan
lainnya. Sanak famili saling mengunjungi. Membagi kue membagi suka. Tawa canda
terukir indah di bibir mungil anak-anak kita yang berlepotan cokelat dan ice
cream.
Tapi di belahan lain dunia kita, awan kelabu menutupi
cerah langit 'Ied saudara-saudara kita. Langit 'Ied di Bosnia dihiasi dentuman
meriam dan desingan peluru. Tak ada daging, roti, atau kue di rumah-rumah
mereka. Tidak. Bahkan rumah-rumah mereka pun telah jadi puing. Anak-anak Bosnia
tentu tak lagi merengek minta dibelikan baju, celana, dan sepatu baru. Mereka
bahkan tak mengerti, masih adakah 'Ied bagi mereka.
Pernah pulakah kita membayangkan bagaimana sejuta pengungsi
Muslim Tajikistan merayakan 'Ied mereka di utara Afghanistan? Mereka tentu tak
lagi menyembelih ayam atau kambing. Tapi dengan mata kepala bahkan menyaksikan
10.000 jiwa saudara mereka disembelih di tepi sungai Jaehon, perbatasan Afghan
dan Tajik.
Anak-anak Tajik tentu tak lagi merengek minta baju,
celana, dan sepatu baru. Sebab mereka bahkan tak tahu, ayah ibu kini berada.
Dapat jugakah kita membayangkan bagaimana saudara kita di
Kashmir, Somalia, Rohingya, Eriteria, Aljazair, dan lainnya merayakan 'Ied
mereka?
'Ied yang suci, indah, dan cerah ini kini ternoda dengan
simbahan darah saudara-saudara kita yang tak berdosa. Tawa canda yang mestinya
mewarnai hari sakral ini, kini berganti luka dan derai air mata. Di sini kita
bersuka, di sana mereka berduka. Di sini kita tertawa, di sana mereka menangis.
Di sini kita gembira, di sana mereka berdarah.
Luka yang menimpa saudara kita di belahan bumi lain
terasa menyayat hati kita yang sedang bergembira di sini. Ketika menikmati
hidangan 'Iedul Fitri, mari sejenak kita mengenang nasib saudara-saudara kita
yang sedang mengungsi, berjuang, atau terzhalimi. Mengenang nasib mereka dan
anak-anak mereka. Juga mengenang 'ketidakmampuan' kita berbuat sesuatu untuk
mereka. Mengenang bahwa kegembiraan 'Jasad Islam' yang besar ini, pada 'Iedul
Fitri ini, tak setuntas kegembiraannya pada perayaan 'Ied di tahun-tahun yang
telah lalu.
Suatu ketika, dari bumi jihad Afghanistan, Sayyaf pernah
berkata: “jika kalian tak mampu membantu kami, minimal janganlah bakhil dengan
doa kalian untuk kami.” Yah, jika tak sanggup memberi materi, sekurangnya kita
memberi doa.
(Disalin dari buku Arsitek Peradaban, karangan
ustadz Anis Matta,Lc diterbitkan tahun 2006 oleh Fitrah Rabbani)
Saudaraku, diluar tulisan Ust, Anis Matta di atas apakah
juga kita membayangkan bagaimana 'Ied saudara-saudara kita di Mesir, Suriah,
Palestina dan belahan bumi lainnya yang saat ini sedang tidak sama seperti kita
keadaannya?
Sebagaimana perkataan Sayyaf, “jika kalian tak mampu
membantu kami, minimal janganlah bakhil dengan doa kalian untuk kami.”
