Kegembiraan ini saudara-saudara sekalian, saya perlu menggarisbawahi. Sumber energi kita, kekuatan kita, dalam mencapai hal-hal besar di dalam hidup kita itu ditentukan oleh kemampuan kita mempertahankan sumber kegembiraan itu.
Karena itu tidak boleh ada peristiwa di dalam hidup ini yang bisa mencabut kegembiraan dari hati kita semuanya. Tidak boleh ada. Jangan biarkan ada peristiwa dalam hidup ini yang bisa mencabut kegembiraan dari hati kita. Kalau kita punya kegembiraan di dalam hati kita, yang akan muncul kemudian itu adalah perasaan berdaya. Keberdayaan ini ikhwah sekalian, saudara sekalian, ini juga yang menentukan seberapa jauh kaki kita bisa melangkah.
Banyak hal-hal besar yang bisa kita lakukan, tapi seringkali kita tidak melakukannya karena kita punya perasaan tidak berdaya. Yang dalam bahasa kita disebut dengan al-‘ajz. Karena itu Rasulullah SAW menganjurkan kita membaca doa dua kali dalam satu hari untuk dijauhkan dari al-‘ajz. Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazan, wa a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasal. Al-hammu wal hazn, gundah gulana, kegalauan, kesedihan, itu adalah virus yang mematikan sumber kegembiraan kita. Dan itu tidak boleh ada. Itu ada di dalam dasar jiwa kita dan itu harus dikeluarkan.
Karena itu di dalam Qur’an, emosi yang merupakan antitesa dari iman, itu ada dua yang paling banyak diulang dalam Qur’an. Yang pertama adalah al-huzn atau kesedihan, dan yang kedua adalah al-khauf atau rasa takut. Itu sangat mendasar dalam Qur’an. Kalau kita punya perasaan itu di dalam diri kita, yaitu kesedihan dan ketakutan, maka yang akan muncul selanjutnya adalah perasaan tidak berdaya, al ‘ajz. Dan kalau kita tidak berdaya, merasa tidak berdaya, walaupun sebenarnya berdaya, yang muncul kemudian itu adalah al-kasal, kemalasan. Dan kalau kita malas, yang muncul kemudian itu adalah, tidak berdaya dan malas ini adalah karakter yang berhubungan dengan diri kita ke dalam.
Tapi akan muncul karakter selanjutnya yang berhubungan dengan hubungan sosial politik kita, wa a’uudzubika minal jubni wal bukhl. Dan kita akan menjadi pengecut, tidak berani mengambil resiko, tidak berani melakukan langkah-langkah besar, karena selalu dihantui oleh ketakutan. Wa a’uudzubika minal jubni wal bukhl. Karena itu tidak mau berkorban. Itu satu paket sifat-sifat ini, tapi dua sifat ini yaitu pengecut dan pelit, itu berhubungan dengan hubungan sosial kita. Dan karena itu, kalau ini ada, yang akan muncul selanjutnya adalah realitas sosial, wa a’uudzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal. Dililit hutang, dan ditindas orang lain. Artinya apa? Secara ekonomi marginal, secara politik juga marginal. Dan saudara-saudara sekalian perhatikan, akarnya adalah al-hammu wal hazan, itu akar psikologisnya.
Karena itu saudara-saudara sekalian, kita adakan acara ini di sini, supaya kita mempertahankan sumber kegembiraan kita bahwa dunia ini ternyata kecil-kecil saja, tidak sebesar yang kita duga. Bahwa masalah yang kita hadapi ini ternyata tidak sebesar yang kita duga. Dan bahwa sebenarnya cita-cita yang ingin kita capai ini insya Allah, ada dalam jangkauan kaki kita dan ada dalam jangkauan tangan kita, insya Allah. Dan karena kita berjalan, doa musafir ini makbul, tadi ust. Ahzar sudah membacakan doa dengan sangat baik, waman yuhaajir fii sabiilillaah, yajida fil ardhi muraaghaman katsiiran wa sa’ah. Banyak faidah yang akan dia dapat, dan terutama itu adalah kelapangan. Saudara-saudara sekalian, itu tujuan pertama kita semuanya berkumpul di sini. Dan karena itu saya ingin Antum semua merasakan bahwa suatu waktu Antum bukan lagi sekadar perwakilan-perwakilan PKS di situ.
Nah ini terkait dengan tujuan yang kedua. Setelah tujuan konsolidasi ini saya juga ingin menegaskan dalam momentum ini bahwa saat ini kita juga akan mengembangkan seluruh target kerja dan juga fungsi-fungsi dari BHLN. Saya tahu selama ini kerja-kerja BHLN itu lebih banyak bersifat tarbawi. Pembinaan kader-kader yang ada di sana, karena umumnya adalah pelajar dan pekerja. Masyarakat Indonesia yang ada di satu negara itu. Itu yang kita garap, dan terutama yang kita lakukan itu hanya kerja-kerja pengkaderan bu. Dan karena fokus kita pada kerja-kerja pengkaderan, biasanya saya melihat keberadaan kader-kader kita di luar negeri ini tidak dimaksimalkan. Termasuk di dalam orientasi pribadi masing-masing. Yang saya maksud orientasi pribadi itu begini. Ada kader yang misalnya belajar di luar negeri. Dia hanya fokus di bidangnya itu, tetapi apa yang merupakan fungsi-fungsi dasar yang sebenarnya bisa dia lakukan waktu dia ada di luar, itu tidak dilakukannya, karena itu di luar dari concern-nya. Di luar dari perhatiannya.
Dan mulai dari sekarang, kita juga ingin memberikan beban baru kepada BHLN, yaitu menambah bebannya kepada kerja-kerja tarbawi pengkaderan itu, juga dengan kerja-kerja diplomasi. Dan karena itu nanti, BHLN bukan hanya bekerja mengkonsolidasi kader-kader PKS yang ada di luar negeri, tetapi juga menjadi ujung tombak yang menghubungkan PKS pertama-tama dengan semua partai-partai yang ada di luar negeri. Sebab seperti yang saya sampaikan di Milad kemarin, bahwa misi kita ini adalah misi yang beyond politics. Lebih dari sekadar tujuan politik, misi kita adalah misi peradaban, misi kita adalah misi kemanusiaan.
Dan Antum semuanya, saudara-saudara semua yang ada di luar negeri sekarang, akan kita berikan beban untuk mulai melakukan juga kerja-kerja diplomasi. Dan salah satu hal yang akan kita lakukan nanti adalah memperkuat hubungan Partai Keadilan Sejahtera dengan seluruh partai politik yang ada di dunia. Dan saudara-saudara yang ada di luar negeri semuanya itu, akan menjadi ujung tombak dari penguatan hubungan internasional itu. Oleh karena itu saudara-saudara sekalian, terutama di BHLN, saya sudah menyampaikan beberapa kali kepada ketuanya, bahwa persiapkan infrastrukturnya, persiapkan SDM-nya untuk melakukan fungsi-fungsi yang lebih besar daripada yang selama ini sudah dilakukan BHLN. Yaitu fungsi-fungsi diplomasi itu tadi. Karena itu saya juga meminta BHLN supaya nanti semua kapasitas SDM yang kita perlukan dalam sebuah hubungan internasional yang kuat itu harus ada. Termasuk di dalamnya adalah spesialisasi yang kita perlukan.
Dan salah satu jenis spesialisasi yang perlukan itu adalah ahli-ahli dalam studi kawasan. Saya ingin menegaskan ini dari sekarang, karena saya sudah menyampaikannya kepada pak Taufiq (sekjen PKS – red) supaya ini disiapkan. Kita perlu banyak kader sebagai ahli dalam studi kawasan Amerika misalnya, studi tentang Eropa, studi tentang Timur Tengah, tentang Afrika, Rusia, Asia Tengah, dan seterusnya. Kenapa ini perlu saya tegaskan sekarang? Karena kita ini ditakdirkan oleh Allah SWT, berada dalam sebuah negara Islam terbesar di dunia. Dan berada dalam negara keempat terbesar di dunia. Jadi kalau kita mengatakan bahwa PKS sekarang ini adalah partai Islam terbesar di Indonesia, itu artinya partai ini adalah partai Islam terbesar di semua negara Islam, terbesar di dunia. Jadi jangan under estimate dalam hal kita mempersepsi diri sendiri.
Turki ini penduduknya berapa? Sekitar 70an (juta) kalau tidak salah, kan? Satu di antara yang terbesar di kawasan ini, karena Mesir kalau tidak salah sekitar 80-85 (juta), Iran mungkin 60-70an (juta) juga sekarang kalau dipetakan. Ini adalah negara-negara besar di kawasan ini semuanya. 22 negara Arab semuanya kalau dikumpulkan baru sama jumlahnya dengan seluruh populasi Indonesia. Karena itu ada seorang politisi di Kuwait, suatu waktu konsultasi dengan NDI (National Democratic Institute – red). Bagaimana cara saya kampanye di dapil saya? Ini NDI bertanya kepada si calon/caleg ini, berapa jumlah pemilih di dapil Anda itu? Dia bilang 3.000. NDI bilang Anda tidak perlu kampanye. Ketuk pintu tiap rumah, Anda menang. Tapi berapa jumlah pemilih di dapilnya pak Syahfan (salah satu kader PKS yang hadir) misalnya, ketua BP3. Itu satu provinsi totalnya bu, seluruh provinsi Bengkulu itu adalah dapilnya. Jadi bisa kita bayangkan perbedaan ada skala. Tapi kita ini saudara-saudara sekalian, terbiasa mempersepsi diri kita itu kecil. Dan karena itu tidak membayangkan bahwa kita juga bisa melakukan kerja-kerja besar. Padahal orang lain memandang kita dengan cara yang sangat berbeda.
Dan salah satu kelemahan Indonesia sekarang ini, mumpung ada ketua komisinya di sini, dan juga mungkin mumpung ada ibu dubes. Saya juga dulu di komisi satu pak. Salah satu kelemahan besar Indonesia yang dicatat oleh seluruh negara-negara Islam itu salah satunya adalah peran Indonesia dalam masalah-masalah internasional tidak terlalu kuat, posisinya itu tidak terlalu kuat. Kita tidak punya standing yang kuat dalam banyak sekali masalah-masalah internasional, padahal orang berharap bahwa sebagai negara muslim terbesar di dunia seharusnya kita terlibat dalam masalah-masalah besar itu. Dan sebagai negara keempat terbesar di dunia, seharusnya kita mengambil peran yang sama besarnya dengan ukuran kita sendiri sebagai negara besar.
Coba Antum bayangkan Qatar misalnya dengan penduduk asli cuma sekitar 200 ribu orang, dan sekarang jadi 1,4 (juta) karena eks-patriat yang datang ke sana, itu bisa melakukan kerja-kerja besar dengan hanya penduduk yang kecil seperti itu. Misalnya fungsi-fungsi mediasi, dan itu sebenarnya yang seharusnya dilakukan oleh Indonesia sebagai the big brother bagi seluruh negara-negara Islam di dunia. Dan karena itu saudara sekalian, kita ingin menyiapkan infrastruktur ini dari sekarang, supaya kita tidak lagi berfikir bekerja dalam skala Indonesia, tetapi mulai berfikir dalam skala global.
Bersambung...
Sumber: dakwatuna.com