Pasca pembantaian yang dilakukan militer terhadap ribuan
demonstran sipil, Mesir terus menjadi sorotan dunia, termasuk Indonesia.
Mantan Presiden Republik Indonesia (RI) BJ. Habibie
mengungkapkan bahwa Indonesia pernah mengalami situasi yang bahkan bisa lebih
parah daripada Mesir, jika tidak segera diatasi. Pada 1998, saat Habibie
dilantik menjadi presiden ketiga, kekacauan terjadi.
“Waktu 1998 lebih gawat dari Mesir. Kita bangkrut, PHK
banyak, orang hidup itu susah. 1.001 macam saya harus selesaikan itu dulu
sebelum perang saudara terjadi,” kata Habibie seperti dikutip Republika Online,
Jum’at (30/8).
Ketika sedang menyiapkan Kabinet Reformasi Pembangunan di
rumahnya, datang tamu spesial, Pangkostrad Letjen Prabowo. Ia hanya
mendengarkan segala saran Prabowo sambil lalu lantaran tengah menyelesaikan
pekerjaan.
Pada 22 Mei 1998 di Istana Merdeka, Habibie mendapati
Panglima ABRI Jenderal Wiranto yang ingin bertemu dengannya. Waktu itu, Habibie
ingin mengumumkan kabinetnya sehari setelah diangkat menggantikan Soeharto.
Wiranto melaporkan, ada gerakan pasukan Kostrad dari
berbagai daerah masuk ke Jakarta tanpa sepengetahuannya. Beberapa pesawat
militer yang mengangkut prajurit Kostrad terdeteksi menuju bandara. Hal itu
dianggap Wiranto berbahaya karena di luar komando resmi.
Mendapati itu, Habibie segera memerintahkan Wiranto untuk
mencopot Prabowo sebelum matahari terbenam. Wiranto yang kaget mendengar
instruksi tersebut balik bertanya kepada Habibie perihal siapa yang pantas
menjabat Pangkostrad.
“Terserah Pangab. Mohon kepada Pangkostrad baru untuk
mengembalikan semua pasukan ke pangkalan masing-masing,” tegass Habibie.
Akhirnya, Prabowo menyerahkan jabatannya kepada Pangdiv I
Kostrad Mayjen Johny Lumintang menjelang Maghrib. Sebenarnya, Wiranto ingin
agar posisi itu diduduki Pangdam III Siliwangi Mayjen Siliwangi Djamari
Chaniago. Lantaran terkendala geografis dan harus melantik Pangkostrad baru,
pilihan akhirnya jatuh kepada Johny Lumintang yang berada di Jakarta.
Johny hanya menjabat Pangkostrad selama 17 jam lantaran
keesokan harinya, ia harus merelakan posisinya untuk diserahkan kepada Djamari
Chaniago. Cepatnya pergantian jabatan itu, kata Habibie, lantaran Wiranto ingin
mentaati perintah Presiden. “Saya tidak kenal mereka semua. Kalau pergantian
dilakukan malam, apa pun bisa terjadi. Saya tidak bisa mengontrol pasukan.”
[JJ/Rol]
