Terkait krisis politik di Mesir, Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama (PBNU) mengimbau warga Indonesia di Mesir, terutama para mahasiswa, agar
tidak ikut campur urusan politik setempat. Alasannya kondisi di sana belum
kondusif.
“Kita berharap pada teman-teman, mahasiswa, warga NU
tidak usah ikut campur politik di Mesir. Tidak perlu berkomentar secara lisan
atau tertulis. Nanti kalau ketahuan malah jadi problem. Keadaan di sana masih
tidak kondusif,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Kantor PBNU,
Jakarta, Rabu (17/7/2013) seperti dikutip situs resmi NU, www.nu.or.id.
Dikatakannya, Mesir dan negara-negara Timur tengah saat
ini sedang shock menghadapi euforia demokrasi yang dipelopori para pemuda dan
sarjana lulusan Eropa dan Amerika.
“Dari dulu, bagi orang Arab, pemimpin itu ya yang penting
adil. Itu saja. Tidak ada aturan ketat soal cara dia terpilih, dan tidak tidak
ada batasan waktu. Setelah generasi muda pulang dari Eropa mereka menginginkan
demokrasi; ada pilihan langsung dan batasan waktu. Sebenarnya masih ada
tabrakan kultur. Sebagian besar, terutama kalangan tua belum menerima sistem
demokrasi,” katanya.
Lebih dari itu, kata Kiyai asal Cirebon ini, Timur Tengah
memang selalu menjadi sasaran pihak-pihak yang tidak senang jika Islam kembali
kuat. Indonesia sebagai negara
berpenduduk mayoritas Muslim dalam hal ini dalam hal ini belum diperhitungkan.
“Setiap ada pergolakan politik, Amerika dan negara-negara
Eropa pasti mengintip, mengintervensi, bahkan mengendalikan. Mursi dan Ikhwanul
Muslimin ini kan baru satu tahun sudah diganti. Ini jelas sekali, semua orang
tahu dan terang benderang bahwa ada intervensi Amerika, tidak perlu analisis
yang njlimet,” kata alumni Universitas Ummul Quro', Mekkah, itu.
Menurut Said Aqil,
saat ini tiga negara yang menjadi simbol kebesaran dunia Muslim sudah hancur;
Mesir, Irak dan Suriah.
“Saya menangis ketika melihat Irak habis, Suriah seperti
itu, dan sekarang Mesir terus bergolak. Tiga negara besar yang andalan kualitas
dunia Muslim itu sudah hancur-hancuran. Ada satu lagi Maroko, ini pun sudah
agak hangat. Namun kultur Maroko agak
berbeda. Kita berharap mudah-mudahan tidak bernasib seperti tiga negara
itu,” pungkasnya.
red: shodiq ramadhan
sumber: nu.or.id
