Rabu, 24 Juli 2013

PBNU Himbau Mahasiswa Indonesia tak Ikut Campur Urusan Politik Mesir

Terkait krisis politik di Mesir, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau warga Indonesia di Mesir, terutama para mahasiswa, agar tidak ikut campur urusan politik setempat. Alasannya kondisi di sana belum kondusif.

“Kita berharap pada teman-teman, mahasiswa, warga NU tidak usah ikut campur politik di Mesir. Tidak perlu berkomentar secara lisan atau tertulis. Nanti kalau ketahuan malah jadi problem. Keadaan di sana masih tidak kondusif,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (17/7/2013) seperti dikutip situs resmi NU, www.nu.or.id.

Dikatakannya, Mesir dan negara-negara Timur tengah saat ini sedang shock menghadapi euforia demokrasi yang dipelopori para pemuda dan sarjana lulusan Eropa dan Amerika.

“Dari dulu, bagi orang Arab, pemimpin itu ya yang penting adil. Itu saja. Tidak ada aturan ketat soal cara dia terpilih, dan tidak tidak ada batasan waktu. Setelah generasi muda pulang dari Eropa mereka menginginkan demokrasi; ada pilihan langsung dan batasan waktu. Sebenarnya masih ada tabrakan kultur. Sebagian besar, terutama kalangan tua belum menerima sistem demokrasi,” katanya.

Lebih dari itu, kata Kiyai asal Cirebon ini, Timur Tengah memang selalu menjadi sasaran pihak-pihak yang tidak senang jika Islam kembali kuat. Indonesia  sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim dalam hal ini dalam hal ini belum diperhitungkan.

“Setiap ada pergolakan politik, Amerika dan negara-negara Eropa pasti mengintip, mengintervensi, bahkan mengendalikan. Mursi dan Ikhwanul Muslimin ini kan baru satu tahun sudah diganti. Ini jelas sekali, semua orang tahu dan terang benderang bahwa ada intervensi Amerika, tidak perlu analisis yang njlimet,” kata alumni Universitas Ummul Quro', Mekkah, itu.

Menurut  Said Aqil, saat ini tiga negara yang menjadi simbol kebesaran dunia Muslim sudah hancur; Mesir, Irak dan Suriah.

“Saya menangis ketika melihat Irak habis, Suriah seperti itu, dan sekarang Mesir terus bergolak. Tiga negara besar yang andalan kualitas dunia Muslim itu sudah hancur-hancuran. Ada satu lagi Maroko, ini pun sudah agak hangat. Namun kultur Maroko agak  berbeda. Kita berharap mudah-mudahan tidak bernasib seperti tiga negara itu,” pungkasnya.

red: shodiq ramadhan

sumber: nu.or.id