Akhir-akhir ini media internasional mengkritik sikap
negara-negara besar yang tidak mengakui penggulingan Presiden Mursi
sebagai sebuah kudeta. Peter Auburn, jurnalis pada Daily Telegraph
menyatakan bahwa satu-satunya kesalahan Presiden Mursi adalah karena
beliau seorang presiden yang terpilih secara demokratis, dan dalam
setahun memerintah tidak pernah menangkap dan menahan seorang pun
penentangnya.
Dia menambahkan, setelah mengkudeta, As-Sisi menutup
10 stasiun televisi, menangkapi para wartawan, menahan para politikus
yang berseberangan, dan menjadikan pembantaian sebagai metode resmi
dalam menghadapi demonstran.
Peter mengungkapkan, seharusnya
beberapa hari lalu Presiden Mursi mengunjungi Inggris bertemu dengan
David Cameron. Tapi setelah dia ditangkap, sekarang Inggris bekerja sama
dengan para penculik nya.
Dengan berani dia menyimpulkan, Inggris benar-benar telah meninggalkan prinsip-prinsipnya.
Penggulingan
Presiden Mursi jelas sebuah kudeta. Peter merujuk kepada media Israel,
DEBKA, yang menyatakan bahwa kudeta Mesir sudah direncanakan sedari
dini. Turut merancang nya, pejabat-pejabat Emirat dan Saudi.
Hal
senada dilansir Guardian, menyebutkan bahwa William Burns adalah pejabat
Amerika pertama yang mengunjungi Mesir pasca kudeta. Burns diperkirakan
akan mendapat pertanyaan yang memojokkan tentang sikap negaranya
menyebut kudeta Mesir. Karena menurut konstitusi Amerika, tidak
dibolehkan membantu negara yang pemerintahnya berawal dari kudeta. Kalau
demikian, Amerika harus menyetop bantuan militer US$ 1.5 Milyar kepada
Mesir setiap tahunnya. (dt/debka/dkw)
