Bahkan mereka (orang-orang Yahudi itu) telah
mempersiapkan bangunan kokoh sebagai tempat persembunyian mereka di bawah tanah
untuk bertahan selama 60 bulan (sekitar 5 tahun) persediaan makanan, pada saat
huru-hara tersebut terjadi.
Kalau misalnya saja sampai hal itu terjadi, maka itulah
bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى Maha Benar yang telah
memperingatkan kita kaum Muslimin, bahwa pekerjaan Yahudi itu adalah merusak
diatas muka bumi. Hanya saja kebanyakan kita kaum Muslimin tidak (belum) sadar,
serta tidak waspada. Oleh karena itu segeralah kita bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى, karena tidak bersegera untuk
istiqamah(lurus) di jalan Allah سبحانه وتعالى.
Padahal kalau terjadi pembangkangan, terjadi kemunkaran, semestinya kita kaum
Muslimin harus tetap istiqamah di jalan Allah سبحانه
وتعالى, sehingga mudah-mudahan kelak kita mati dalam keadaan yang
husnul khootimah.
Orang-orang Yahudi itu juga sedemikian radikalnya,
sehingga nabi-nabi mereka sendiri pun, mereka bunuh. Bayangkan, nabi-nabi
mereka bunuhi. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang memberitakan tentang pembunuhan
para Nabi oleh orang-orang Yahudi, antara lain adalah sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 61:
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن
نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا
تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا
قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ
مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ
وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْاْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ
يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ
ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami
tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah
untuk kami kepada Robb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang
ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang
adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang
rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti
kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista
dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi)
karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang
memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat
durhaka dan melampaui batas.”
Terlihat dengan jelas bagaimana perilaku orang-orang
Yahudi tersebut terhadap Nabi mereka. Mereka (Yahudi) bahkan berani-beraninya
“menyuruh” Nabi Musa عليه السلام. Padahal
seharusnyalah kalau mereka itu orang yang beradab, tentunya tidaklah layak
menyuruh kepada Nabi-nya; tetapi seharusnyalah mereka mengatakan: “Mari kita
bersama-sama memohon kepada Allah سبحانه وتعالى”,
dan seterusnya. Jadi bukan dengan menyuruh kepada Nabi Musa عليه السلام, sebagaimana yang mereka lakukan.
Dalam ayat tersebut diberitakan bahwa mereka (Yahudi) itu
dijadikan nista dan hina oleh Allah سبحانه وتعالى,
serta kemurkaan Allah سبحانه وتعالى
tertimpa atas mereka; itu adalah karena mereka (Yahudi) kafir, selalu
mengingkari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى,
dan membunuh nabi-nabi mereka, serta berma’shiyat yang melampaui batas.
Selanjutnya dalam kesempatan lain, insya Allah akan kami
sampaikan tentang perkara Kitab Talmud, yakni kitab yang mereka bikin atau
karang sendiri, yang isinya sangatlah keji. Sejak tahun 1965 Kitab Talmud yang
terdiri tidak kurang dari 24 jilid tersebut diterjemahkan dan barulah selesai
penterjemahannya kedalam bahasa Ibrani, bahasa Inggris, lalu kedalam bahasa
Indonesia beberapa tahun terakhir ini.
Maka perlu kaum Muslimin sadari, bahwa apabila tabiat
Yahudi adalah seperti yang Allah سبحانه وتعالى
beritakan, dan kalau Kitab karangan mereka sudah tersebar ke seluruh penjuru
dunia, maka tentu “virus” kerusakannya pun juga akan menyebar. Dan itu akan
menjadi bahaya bagi kita kaum Muslimin.
Dengan demikian, sudah semestinya kita kaum Muslimin
memiliki sikap, sekalipun huru-hara yang mereka rencanakan itu belum terjadi,
namun seharusnya kita sudah mulai berfikir. Karena orang-orang Yahudi secara
rahasia, sejak abad ke-18 (tahun 1700-an), sudah menjalankan rapat-rapat
rahasia yang dihadiri oleh berbagai negara, dimana mereka bersepakat untuk
menghancurkan dunia. Maka hendaknya kita harus waspada, karena bisa saja kita
menjadi korbannya, tanpa kita sadari.
Sekian bahasan kita kali ini sebagai Muqoddimah,
mudah-mudahan pada kesempatan yang akan datang, insya Allah akan kita bahas
tentang Silsilah dari mulai Nabi Ibrohim عليه السلام
sampai kepada Nabi Sulaiman عليه السلام
dan Nabi Daawud عليه السلام. Karena sejak dari
situlah ternyata Yahudi ber-makar dengan berbagai caranya di dunia ini.
TANYA JAWAB
Pertanyaan:
Sebagai saran saja, bahwa dari analisa sosial yang ada
dalam masyarakat Islam sekarang di Indonesia, maka ketidak pedulian atau sangat
sedikitnya kewaspadaan mereka kaum Muslimin terhadap ancaman Yahudi seperti
disebutkan diatas, barangkali disebabkan antara lain :
1. Pemahaman atas surat Al Faatihah (1) ayat 7, terutama
kalimat Maghdhuubi (المَغضُوبِ) danAdh Dhoolin (الضَّالِّينَ) adalah kurang dipahami oleh kaum Muslimin,
terutama di Indonesia.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ
عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
Artinya:
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan
ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat.”
2. Sejarah keberagamaan sejak Nabi Adam عليه السلام sampai sekarang tidak tuntas disampaikan.
3. Maka bila pada pertemuan yang akan datang, insya Allah
akan dipaparkan bagaimana kondisi beragama dari zaman Nabi Ibrahim عليه السلام sampai periode Nabi Musa عليه السلام, lalu sampai kepada periode Nabi ‘Isa عليه السلام, dan pada akhirnya sampai kepada periode
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم; maka kami akan
sangat berterima kasih.
4. Dan juga pasca periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, kita hanya mempelajari Islam sejak
periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sampai sekarang saja. Sementara, bagaimana
perkembangan Yahudi, bagaimana peran Samiri, bagaimana pengubahan Kitab Taurat
menjadi beberapa kitab di kalangan Yahudi maka hal itu tidak pernah kita
pelajari atau tidak pernah disampaikan oleh para Ustadz.
5. Rupanya ada semacam ke-tabu-an di kalangan para
penceramah (Ustadz) untuk menyampaikan ke-Tauhid-an Nabi Musa عليه السلام, Nabi Daawud عليه
السلام, Nabi Sulaiman عليه السلام
serta Nabi ‘Isa عليه السلام; yang sampai sekarang
masih tersurat di Kitab Injil.
Itulah kiranya yang perlu kita dalami, dan kami sangat
berharap, karena hal tersebut sangatlah mendasar, sehingga kita kaum Muslimin
menjadi tahu (paham) bahwa apa yang dijelaskan diatas, ketika ada Konsili
terakhir Yahudi di tahun 1935, Samuel Pieter salah seorang dedengkotYahudi dari
Jerman mengatakan: “Orang Islam itu tidak perlu sampai di-murtadkan, cukup
mereka itu dijauhkan dari agamanya (Islam) maka itu sudah bagus.”
Perlu juga dibuat label-label, dan kemungkinan kalau kita
bicarakan hal ini, maka akan terjadi kontra diantara ummat Islam sendiri,
dimana kalau kita mau jujur, maka ternyata banyak sekali dana-dana Yahudi yang
disalurkan kepada organisasi Islam di Indonesia. Ini kita harus berhati-hati.
Dan kita harus berani mengatakan bahwa Lembaga A, organisasi B adalah
antek-antek Yahudi. Pemusik ini, penyanyi itu, mereka itu adalah pecinta Yahudi
dan seterusnya. Hal itu perlu disampaikan kepada ummat Islam di Indonesia.
Jawaban:
Terimakasih, usulan dan komentar tersebut bisa dijadikan
masukan bagi kami untuk bahasan yang akan datang. Memang benar, kita ummat
Islam di Indonesia dalam mengkaji dienul Islam sangatlah terbatas. Sejak kecil
kita belajar dienul Islam sepekan paling lama 2 jam. Kalau seorang anak tidak
disekolahkan di Pesantren atau Madrasah; maka paling hanya sekitar 2 jam saja
ia itu belajar Islam dalam sepekannya. Artinya, porsi untuk mendasari seseorang
dengan dienul Islam, sangatlah kurang di Indonesia ini. Maka sejak dahulu di
masyarakat kita, yang diketahuinya itu hanyalah perkara shalat, shaum, zakat,
haji (– itupun juga belum maksimal sesuai tuntunan Rasulullah صلى الله عليه وسلم –), sesudah itu maka selesai. Sehingga
berbagai perkara seperti hukum Rajam, hukum potong tangan, hukum kepemerintahan
didalam Islam, dan berbagai hukum lainnya itu sangat jarang bahkan hampir-hampir
tidak pernah dibahas oleh kaum Muslimin di negara kita. Hal ini adalah karena
porsi belajar Islam bagi kita kaum Muslimin di Indonesia itu sangatlah kurang
(minim). Sehingga pada hakekatnya, ummat Islam di Indonesia ini seperti “kurang
gizi” dalam perkara dien (agama).
Pertanyaan:
Menurut informasi agama, katanya Nabi Daawud عليه السلام beristrikan 99 orang. Sementara Nabi
Sulaiman عليه السلام beristrikan tidak
kurang dari 350 orang. Kalau itu benar, apakah ketika zaman itu terlalu banyak
wanitanya ataukah kurangnya kaum laki-laki?
Jawaban:
1. Nabi dan Rasul adalah ma’shum, terjaga dari salah dan
dosa.
2. Allah سبحانه وتعالى
berfirman dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 48:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ
شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا …
Artinya:
“Bahwa Allah jadikan setiap kaum itu ada syari’at, dan
jalan masing-masing.”
Maksudnya adalah masing-masing kaum (di masa
masing-masing Nabi) syari’atnya adalah berbeda-beda. Tetapi Aqidahnya adalah
sama, yakni hanya menyembah Allahسبحانه وتعالى.
Laa Ilaaha IlAllah. Tetapi Fiqihnya berbeda-beda. Kalau Nabi Daawud عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام beristri (menikah) dengan sekian banyak
wanita, maka itu adalah karena Syari’at yang berlaku di zaman ketika itu
membenarkan atau membolehkan hal itu terjadi.
Sebagai contoh lain, misalnya pada zaman Bani Israil,
kalau mereka ingin bertaubat kepada Allah سبحانه
وتعالى maka mereka harus membunuh dirinya sendiri (bunuh diri).
Sementara di zaman Islam, bila kita berbuat dosa (kesalahan), lalu ingin
bertaubat maka tidak harus bunuh diri, cukup dengan bertaubat (memohon ampun)
kepada Allah سبحانه وتعالى dan menyesali perbuatan yang telah dilakukan
serta tidak mengulangi perbuatan itu lagi, dan seterusnya. Hal ini menunjukkan
bahwa Allah سبحانه وتعالى sangatlah sayang
kepada kita ummat Islam.
Pertanyaan:
Bila seseorang Muslim (mengaku Muslim) tetapi ia
berperilaku seperti milat Yahudi atau Nashrani, apakah itu sudah bisa dianggap
murtad, keluar dari Islam?
Jawaban:
Bisa jadi karena tabi’at seseorang itu munafiq, atau bisa
jadi karena seseorang itu Jaahil (bodoh), yaitu ia mengaku Islam tetapi
loyalnya kepada orang kafir. Tetapi kalau ia tidak Jaahil, tentunya tidak akan
terjadi demikian.
Allah سبحانه وتعالى
berfirman dalam QS. An Nisaa’(4) ayat 138-139:
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ
لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا - الَّذِينَ
يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ..
Artinya:
“Beritahukanlah kepada orang munafiq bahwa mereka berhak
mendapatkan adzab (siksa) yang pedih. Yaitu orang-orang yang menjadikan
orang-orang kafir sebagai wali-wali mereka selain orang-orang yang beriman…”
Maka kalau ia mengerti atau beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, bahwa orang yang ber-wala’ (loyal) kepada
orang kaafir adalah munafiq (nifaq besar), yang berarti ia telah murtad, keluar
dari Al Islam; maka tentu ia tidak akan melakukan yang seperti itu. Orang
munafiq yang demikian itu karena ia berada di tengah-tengah kaum Muslimin,
tetapi hatinya bersama orang-orang kafir. Dan sebetulnya ia pun dengan seperti
itu menjadi kafir.
Oleh karenanya, hendaknya kita tahu indikator atau
parameter kapan seseorang itu murtad, kapan seseorang itu mu’min (beriman),
kapan seseorang itu Muslim, Munafiq atau Kafir, dan sebagainya.
Melalui ta’lim, melalui mengaji Al Qur’an dan Sunnah,
maka kita menjadi tahu indikator dan parameter yang dimaksud, insya Allah.
Betapa pun mengkafirkan seorang yang sudah Muslim, maka
itu adalah perlu kehati-hatian dan perlu tahapan serta tidak boleh sembarangan.
Mudah-mudahan Allah سبحانه
وتعالى selalu menunjukkan kepada kita jalan yang lurus,
istiqamahdiatasnya, serta semoga kita diberi kemudahan untuk menjalankan
Syari’at Allah سبحانه وتعالى ini, dan semoga Allah
سبحانه وتعالى jadikan kita sebagai
penyeru kepada dien yang lurus ini.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita
kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Sumber: Islam Pos
