Tahun 2003 sempat berkirim pesan menanyakan hal ikhwal studi di Jerman. Ustadz merespon tanpa segan. Padahal kita belum sempat kenalan.
Maaf Ustadz..
Kini engkau mendekam dijeruji atas tuduhan yang tidak pernah terbukti. Katanya suap kebijakan daging sapi hingga sangkaan money laundry.
Maaf Ustadz..
Karena ustadz bukan jendral berbintang. Harkat martabat ustadz ditendang tendang. Tak sempat pamitan apalagi jalan jalan.
Maaf Ustadz..
Karena ustadz bukan anak mas seperti mas Anas. Yang tahu rahasia orang orang berjas. Ustadz dipenjara tanpa alasan yang jelas. Entah kapan ustadz bisa menghela bebas.
Maaf Ustadz..
Karena ustadz bukan tim sukses seperti mas Andi Mallarangeng. Yang tahu sumber kampanye yang ngjreng. Ustadz dikerangkeng laksana gepeng. Diblow up media begitu ngjreng.
Maaf Ustadz..
Saya orang desa hanya bisa memanjat doa. Agar Allah membuka 1001 hikmah yang pasti ada. Agar kita mohon yang zhalim segera sirna. Seiring malam berganti warna.
Doa rabithah sahut menyahut terus bergetar. Dari Melaboh hingga negeri Gibraltar. Mengetuk 'Arasy memohon kepada Allah maha Ghaffar. Agar dibalik tabir terkuak jalan keluar. Kami tak ridha menjadi tumbal keadilan yang ditukar.
Nandang Burhanudin
Sumber: Islamedia via @pksdepok