Sabtu, 18 Mei 2013

PKS dan Kiyai Kampung Oleh: Puspita Sari

Hebohnya pemberitaan tentang
kecurigaan berbagai pihak
terhadap aset-aset yang dimiliki
PKS mengingatkan saya kepada
seorang kiyai kampung yang
kegiatan sehari-harinya mengajar di madrasah dan juga
menjadi imam tetap di masjid
kampungnya.

Awalnya hubungan beliau dengan
warganya sangat harmonis
karena hidup beliau memang dihabiskan untuk mengabdi
kepada masyarakat, mengajar
dan mendidik warganya siang
malam tanpa kenal lelah,
sehingga pengabdian beliau ini
sangat diapresiasi oleh warga setempat dan beliau cukup
dicintai dan disegani.

Hingga pada suatu waktu ketika
pak kiyai memberangkatkan
putranya ke Cairo untuk belajar
di Univ. Al-Azhar, mulailah kasak- kusuk dari sebagian warga yang
tidak habis pikir dari mana pak
kiyai membiayai keberangkatan
putranya tersebut yang
tentunya memerlukan puluhan
juta rupiah.

Belum terjawab tanda-tanya ini, pada tahun
berikutnya pak kiyai juga
menyekolahkan anaknya yang
lain di UNAIR, dan tahun
berikutnya lagi anak yang
satunya lagi di terima di UGM.

Belum lagi anak-anaknya yang
belajar di pesantren ada juga
yang masih di SLTP dan di SD.
Kalau di hitung-hitung menurut
logika orang kampung untuk
menyekolahkan anak-anaknya pak kiyai tersebut paling tidak
harus punya penghasilan tidak
kurang dari sepuluh juta rupiah
perbulan.

Inilah yang membuat masyarakat
tak habis pikir, dari mana pak kiyai mendapatkan uang
sebanyak itu? Merekapun
memutar otak, meneliti dan
menyelidik. Sebagian mereka ada
yang husnudzzon. Mereka bilang:
mungkin saja pak kiyai dicukupi rezekinya oleh Allah karena
beliau rajin ibadah dan banyak
berkorban untuk
masyarakatnya.

Namun ada juga
yang menduga-duga bahkan
menfitnah bahwa pak kiyai telah menilep uang madrasah dan uang
masjid, walaupun dugaan mereka
ini sama sekali tidak beralasan
bahkan tidak masuk akal, sebab
mereka tahu bahwa uang
madrasah hanya dari SPP siswa yang tidak cukup untuk menggaji
guru-gurunya, demikian juga
uang masjid hanya dari kotak
amal yang diedarkan setiap
jum’at yang biasanya diisi uang
receh seratus sampai seribu perak.

Bahkan kalau seandainya
semua uang tersebut diambil
oleh pak kiyai pun tidak cukup
untuk membiayai satu orang
anaknya apalagi seluruhnya.
Namun karena mereka tidak mampu berpikir lebih dari itu,
maka hal yang tidak masuk akal
pun mereka tuduhkan.

Merasa gerah dengan isu-isu
yang menyebar di masyarakat,
pihak keluarga pak kiyai mengklarifikasi bahwa ketiga
anak kiyai yang kuliyah di dalam
maupun di luar negeri tidak
dibiayai oleh kiyai alias mendapat
beasiswa. Apa itu beasiswa?

Tidak ada warga yang paham, dan setelah dijelaskan pun
mereka tidak ada yang percaya;
sebab sepengetahuan mereka
tidak ada di negeri ini sekolah
yang gratis, apalagi di luar
negeri. Yang mereka tahu di desa sebelah ada satu orang
yang mampu menyekolahkan
anaknya ke luar negeri, itu pun
pengusaha kaya yang konon
mengeluarkan biaya puluhan juta
untuk membiayai anaknya tersebut.

Adapun kuliah di dalam
negeri semua pada mafhum
berapa juta biaya yang
diperlukan, sehingga ada
beberapa anak warga yang
terpaksa meninggalkan bangku kuliyah karena tidak ada biaya,
bahkan tidak sedikit yang hanya
mampu menyekolahkan anaknya
sampai SLTA bahkan hanya SLTP
dan SD.

Pak kiyai pun menyikapi tuduhan-tuduhan sebagian
warganya dengan tenang dan
senyum. Beliau hanya bilang:
biarkan saja, nanti kalau capek
mereka akan berhenti sendiri.
Beliau maklum bahwa akal warganya tidak mampu untuk
memahami apa itu beasiswa?
Karena mereka belum pernah
mendengar dan belum pernah
melihat.

Rupanya kasus PKS mirip dengan kisah kiyai kampung tersebut.
Melihat PKS punya aset-aset
yang tak kalah dengan partai-
partai besar dan juga sering
mengadakan kegiatan-kegiatan
yang menelan biaya besar, publik pun tak habis pikir dari mana
PKS mendapatkan dana?

Maka serta-merta tuduhan pun
diarahkan ke PKS, apalagi kalau
bukan korupsi? Sebab PKS tidak
memiliki pengusaha sekelas ARB atau SP atau HT dan lainnya.
Mereka menuduh PKS tidak
transparan terkait masalah
keuangan padahal sumber dana
PKS sudah beberapa kali
diumumkan ke publik. Namun para politikus, para pengamat
sampai para pakar ekonomi tidak
jauh beda dengan warga di
kampung pak kiyai.

Logika mereka tidak mampu untuk
memahami dan menerima fakta bahwa PKS punya sumber dana
yang sangat besar yaitu infak
dari para kader yang setiap
bulannya mencapai puluhan
milyar. Sulit bagi mereka untuk
percaya bahwa ada kader partai yang mau menyumbang
partainya secara rutin karena
mereka tidak melihat hal ini di
partai lain.

Maka sebagaimana pak kiyai
memaklumi ketidak pahaman warganya dan hanya
menyikapinya dengan senyum
dan doa: Allahummahdi qaumi
fainnahum laa ya’lamuun. Begitu
juga PKS perlu memaklumi pihak-
pihak yang tidak mampu memahami sumber dana PKS dan
menyikapinya dengan bijak,
penuh kesabaran dan juga doa
semoga mereka mengerti.

Sumber:  http://www.facebook.com/groups/363873410396106/permalink/405839619532818/

           Via Tobroni Yusuf