Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca di salah satu website
mengenai tulisan seorang teman yang berpendapat kasus kriminalisasi
terhadap LHI bisa berdampak positif terhadap citra PKS jika ternyata
kasus ini dilatarbelakangi motif politik kelompok tertentu untuk
menghabisi eksistensi PKS.
Istilah populernya korban penzalimanlah.
Berbicara mengenai hal ini, jadi teringat akan kasus Inul Daratista yang
merasa “terzalimi” dengan aksi Raja Dangdut Rhoma Irama atau Bapak SBY
yang mengundurkan diri dari Kabinet Gotong Royong karena perlakuan yang
kurang mengenakkan dari Eks Presiden Ibu Megawati ketika itu.
Ada baiknya, melihat kutipan hadist berikut ini :
ب إلى الله من المؤمن الضعيف ، وفي كل خير احرص على ما
ينفعك ، واستعن بالله ولا تعجز ، وإن أصابك شيء ، فلا تقل لو أني فعلت كان
كذا وكذا ، ولكن قل قدر الله وما شاء فعل ، فإن لو تفتح عمل الشيطان ” (رواه مسلم )
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang
mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang
mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan.
Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah
pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu
menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian
niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah
ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia
kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah
perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)
Yang patut digarisbawahi adalah kalimat “seorang mukmin yang kuat
lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang yang lemah”. Kata
lemah di sini lebih menunjukkan kepada lemah mental spiritual ketimbang
lemah secara fisik.
Memang pada awal kasus ini bergulir, saya melihat PKS merasa sebagai
pihak yang “terzalimi” dengan adanya statement politik dari elite partai
bahwa LHI adalah “korban konspirasi” dari otoritas penguasa. Statement
itu kemudian menjadi olok-olok sejumlah kalangan baik dari media massa
cetak dan elektronik terutama media online. Pembenaran mengenai masalah
“korban konspirasi” ini mari kita tengok saja pada proses hukum yang
sedang berjalan nanti.
Menurut saya pernyataan tersebut tak lebih dari
sekedar efek kejut atas sesuatu yag terjadi seperti ketika seorang ibu
yang kaget ketika mendapati anaknya diduga mengambil sejumlah uang milik
orang lain. Tambahan lagi penyebutan PKS sebagai “pihak yang dizalimi”
cenderung didefinisikan sebagai suatu kelemahan, kekurangan, minta belas
kasihan atau simpati orang lain. Hal yang sangat kontradiktif jika
sebuah partai berkeinginan menjadi partai “kuat”.
Yang patut dicatat adalah peristiwa yang terjadi setelah itu yang
mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan. Beberapa hal inilah yang
sebenarnya menunjukkan “kekuatan” dari partai ini.
Yang pertama adalah sikap legowo elite partai. Pengunduran diri
mantan Presiden PKS Bapak LHI setelah ditahan oleh phak KPK
dilanjutkan dengan pengangkatan Bapak Anis Matta sebagai Presiden baru
PKS.
Demi membangun kembali citra positif partai yang tercoreng akibat
dugaan kasus korupsi dan untuk mensolidkan para kader pada tingkat
“grass root”, Bapak Anis Matta sampai perlu untuk melepaskan kursinya
sebagai wakil ketua DPR. Sulit dipercaya sebuah jabatan bergengsi yang
diperebutkan banyak orang harus “dilepas” begitu saja. Banyak orang
sampai berani menggadaikan seluruh harta kekayaannya demi mendapatkan
“sebuah kursi” di DPR.
Tak jarang sampai mengajukan pinjaman hutang
kepada sejumlah pihak terutama bank untuk mendapatkan “sebuah kursi”.
Bahkan ketika gagal untuk mendapatkan “sebuah kursi” tak sedikit dari
mereka yang bertingkah laku “tidak waras” atau nyaris gila. Tidak hanya
itu, beberapa menteri yang sudah mendapatkan tempat di kabinet ternyata
masih ada yang memiliki rangkap jabatan terutama di struktural partai.
Hebatnya lagi regenerasi pimpinan partai berjalan mulus tanpa ada
keributan masalah jabatan, suatu hal yang sangat jarang terjadi di era
demokrasi ini. Dari pengunduran Presiden PKS, pengangkatan Presiden
baru PKS, pengunduran diri presiden baru PKS dari jabatan wakil ketua
DPR serta penunjukkan wakil ketua DPR yang baru berjalan aman-aman saja
tanpa kericuhan sama sekali. Gonjang-ganjing yang menimpa partai ini
ternyata tidak mengganggu harmonisasi sesama elite partai yang
menandakan kedewasaan politik mereka.
Langkah Presiden PKS terpilih ini mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung.
“Saya juga pernah lakukan itu, Pak Idrus juga pernah. Itu bagus
demi konsentrasi bertugas di partai,” kata Pramono di Kompleks Parlemen
Senayan, Beberapa waktu lalu.
Yang kedua sikap loyalitas para kader dan simpatisan. Walaupun
partainya menjadi “bulan-bulanan” sejumlah media massa serta sejumlah
pakar politik dan sosial. Kader PKS di tingkat bawah tidak langsung
patah semangat dan tidak percaya begitu saja terhadap berita-berita
yang berkembang yang cenderung menyudutkan partai mereka.
Indikasinya
bisa dilihat dari kunjungan Presiden baru PKS ke berbagai daerah yang
mendapat sambutan luar biasa dari para kader dan simpatisan. Yang paling
spektakuler adalah kemenangan dua kader PKS di Pilkada Gubernur dua
daerah pemilihan Jawa Barat dan Sumatera Utara. PKS memang bukan partai
dominan di daerah itu, tapi tanpa kesolidan para kader sulit mencapai
kemenangan itu.
Yang ketiga Prestasi para kader PKS. Ini yang jarang
terpublikasi oleh media. Ketika sejumlah media sibuk membicarakan kasus
hukum LHI dan stigma buruk tentang PKS lainnya, banyak yang tidak
mengetahui bahwa di saat yang bersamaan seorang Kader PKS Gubernur
Sumatera Barat Bapak Irwan Prayitno meraih penghargaan peringkat
terbaik I Anugrah Pangripta Nusantara Utama, dalam penyusunan rencana
kerja Pemerintah Daerah 2013 kategori provinsi kelompok B atau APBD-nya
masih kecil. Sangat disayangkan sekali pencapaian prestasi-prestasi yang
diraih oleh kader PKS sering luput dari perhatian kita bahkan oleh para
kader dan simpatisan PKS sekalipun.
http://www.islamedia.web.id/2013/05/sumbar-terbaik-pertama-penyusunan.html
Bapak Presiden SBY juga menunjukkan apresiasinya dengan memberikan Bapak Irwan
buku data dan informasi pembangunan Indonesia 2004-2012. Gubernur lain
yang mendapatkan buku langsung dari Presiden adalah Gubernur Jawa Barat
Ahmad Heryawan yang juga merupakan kader PKS.
Kader PKS lainnya yang banyak mendapatkan penghargaan dalam dan luar negeri adalah Ahmad Heryawan dan Nur Mahmudi Ismail.
http://www.dakwatuna.com/2012/12/19/25594/ini-dia-91-penghargaan-yang-diraih-gubernur-jabar-ahmad-heryawan/#axzz2SUjmLnAs
http://zaharafina.blogspot.com/2012/09/dia-lah-sosok-teladan-itu-nurmahmudi.html
Dengan adanya kasus kriminalisasi LHI, justru Allah SWT memberikan
cobaan agar PKS bertambah kuat. Mari belajar dari Partai Ikhwanul
Muslimin (cikal bakal embrio PKS) di Mesir yang mengalami tekanan lebih
dashyat dari PKS. Pemimpinnya dibunuh,mengalami penyiksaan
berat,dicekal dan dipenjarakan, organisasinya dibubarkan. Toh berkat
kesabaran dan selalu istiqomah akhirnya partai Ikhwanul Muslimin
“dimenangkan” oleh Allah SWT untuk memimpin mesir.
Presiden Mesir
sekarang Muhammad Mursy juga merupakan mantan aktivis yang dijebloskan
ke penjara. Perjalanan PKS memang belum sepanjang organisasi Ikhwanul
Muslimin yang sudah banyak makan asam garam di dunia politik. Seiring
dengan perjalanan waktu makin banyak hambatan dan rintangan yang
menghadang di jalan, jika mampu melewatinya maka PKS akan bertambah kuat
dan diperhitungkan. Insyaallah akan terbukti.
Wallahualam
Oleh Deddy Kurniawan
Via kompasiana.com
http://goo.gl/sN2em


