Sungguh, bertahun-tahun menjalani
halaqoh di Samarinda, tak pernah terbersit oleh saya akan menikmati
halaqoh dengan bentuk lain. Halaqoh yang hanya suaralah menjadi pelepas
rindu dengan saudara-saudara se-halaqoh. Halaqoh yang bermil-mil
jaraknya, namun dapat menghubungkan tali silaturahim antara murabbi
dengan mutarabbi. Halaqoh yang hanya dapat dihadiri secara rutin oleh
orang-orang yang berazzam kuat untuk terus tertarbiyah. Ya, halaqoh itu
bernama halaqoh online.
Halaqoh ini tak lazim ditemukan di Indonesia, namun sering sekali
ditemukan di luar negeri, khususnya dijalani oleh ikhwah yang tinggal
atau sedang menuntut ilmu. Halaqoh ini tidak seperti halaqoh kebanyakan
yang sangat mudah diakses tanpa banyak persiapan: tinggal datang,
tinggal duduk manis mendengarkan murabbi dan tinggal mengkhusyu’kan diri
di dalam majelis. Halaqoh online adalah halaqoh penuh perjuangan lahir
dan batin. Bagaimana tidak, proses menemukan kelompok halaqoh tidak
semudah proses transfer halaqoh di Indonesia. Di sini tidak semua states
memiliki perwakilan, maka kita harus sepintar-pintarnya mencari
halaqoh-halaqoh itu bak mencari jarum di dalam jerami. Terkadang antara
murabbi dan mutarabbi tidak pernah bertatap muka, tidak mengenal wajah
hanya suara. Begitupun antara saudara sehalaqoh hanya bisa menebak-nebak
rupanya setelah melihat foto-foto di Facebook, itupun kalau teman
sehalaqoh punya account FB. Kalau tidak, hanya saling bertukar foto
melalui e-mail dan masih melanjutkan acara tebak-tebakan itu sepanjang
halaqoh berjalan.
Cukupkah dengan suara dan foto maka kita bisa langsung saling mengenal?
Jawabannya bervariasi, sebab psychology masing-masing orang
berbeda-beda. Ada yang sangat terbuka, ada yang biasa-biasa saja, sampai
ada yang kasak-kusuk tak betah karena tak nyaman dengan hanya mendengar
suara saja. Dengan begitu otomatis ta’liful qulb antara saudara
sehalaqoh dapat terganggu, seperti terganggunya kami saat koneksi
internet yang tiba-tiba terputus ditengah-tengah kekhusyu’an kami
mendengarkan taujih dari murabbi. Dan jika sudah begitu,
tertatih-tatihlah saudara yang menjadi host saat halaqoh berlangsung,
mensetting ulang, meng-add ulang teman yang terputus jaringannya,
sembari harus tetap khusyu’ mendengarkan sang murabbi.
Hanya segitu challenge-nya? Tentu tidak. Challenge yang paling
berat adalah menetapkan hati untuk tetap khusyu’ mendengarkan taujih dan
diskusi dengan saudara sehalaqoh. Sebab ini adalah halaqoh online, maka
dengan sangat mudah kegiatan online lainnya menyusup di sela-sela
halaqoh berjalan. Facebook, E-mail, Blog dan lain-lain adalah temptation
yang menggiurkan bagi peserta halaqoh untuk tidak dibuka! Sebab murabbi
dan saudara sehalaqoh lainnya pun tak melihat aktivitas sampingan kita.
Berbeda dengan halaqoh tatap muka dimana semua dapat saling menjaga.
Maka tak cukuplah ‘azzam di dalam hati ini untuk terus terbina dalam
tarbiyah yang dapat menjaga keistiqomahan kami untuk tetap menjalani
halaqoh online. Kami butuh yang lebih dari itu. Yaitu mencintainya
dengan segala kekurangannya. Mencintainya sebab kami mencintai kalian
dan tetap ingin bersama dalam jamaah ini dengan segala kekuarangannya.
Mencintainya sebab rindu kami pada kalian yang menghidupkan perjuangan
ini dengan segala kekuarangannya. Mencintainya sebab kami teramat yakin
Allah SWt akan lebih mencintai kami dengan segala kekuarangan kami.
Maka hadirkan kami dalam doa-doa kalian, agar kami tetap ikhlas dan
sabar menapaki jalan panjang tarbiyah kami. Hadirkan kami dalam
munajat-munajat kalian agar Allah SWT ridha atas keistiqomahan kami dan
kalian. Hadirkan bayang-bayang kami dalam halaqoh-halaqoh kalian, agar
syukur kalian yang mendapatkan fasilitas nyaman berhalaqoh tak
putus-putus terlafazkan dalam hati, hingga tak ada alasan lagi untuk
tidak menghadirinya dengan suka cita, dan tentu saja cinta.
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumsalam…”
“Hallo, siapa saja yang sudah online?”
“Saya sudah, si A sudah online tuh kayaknya…”
“Sebentar, ana izin dulu ya, mau jemput anak…”
“Si B izin telat bu, kan kita beda 3 jam waktunya dengan si B, jadi mungkin masih tidur…”
“Si C masih on the way bu, baru dari kampus…”
“OK, kita mulai dengan yang ada saja… Ayo, kita buka dengan tilawah..”
“Hallo…hallooo…kedengaran ga?” Tut..tut…tut..tuttttttttt
DISCONNECT
Canberra, January 2013
*Untuk murabbi saya di Sydney dan saudara-saudara sehalaqoh di Canberra, Darwin, Wollongong dan Tasmania, sungguh cinta ini hanya karena Allah… Terima kasih atas sabar yang tak henti-henti hadir dalam setiap perjumpaan. I’ll miss the halaqoh…really… :D [pkspiyungan]