Oleh : Anna Nur F (Pemerhati Masalah Sosial)
BERITA tentang larangan berjilbab pada Polwan beberapa
hari terakhir ini, mengingatkanku pada masa lalu. Saat remaja dulu, aku pernah
punya keinginan yang sangat besar menjadi polisi wanita atau yang lebih akrab
disebut polwan. Apalagi postur tubuhku yang sangat menunjang, tinggi di atas
rata-rata. Belum lagi deretan juara lari, atletik maupun bola voley yang jadi
hobiku. Ketika itu sebenarnya pun terinspirasi oleh salah seorang saudaraku
yang terlebih dahulu sudah menjadi polwan. Saudaraku nan cantik jelita,
bertambah ayu saat mengenakan seragam polwannya. Dengan tinggi badan yang
semampai, 170 cm ia terlihat gagah. Dalam hatiku waktu itu berdecak kagum,
bagaimana mungkin gadis lemah lembut yang amat pemalu seperti ia bisa menjadi
polwan.
Hari demi hari berlalu, aku masih mengagumi polwanku.
Namun saat aku memasuki SMA kesadaran baru mulai muncul seiring ketertarikanku
untuk mempelajari Islam lebih mendalam di luar pelajaran sekolah. Saat itu aku
memilih untuk terjun aktif ke rohis SMA. Dari kegiatan itu aku semakin tahu dan
memahami aturan agama terhadap aurat wanita. Aku jadi tahu seluruh tubuh wanita
adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan. Aku juga tahu bahwa menutup aurat
bagi wanita adalah kewajiban yang berasal Alloh SWT. Alloh berfirman,” Hai anak
Adam, Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu
dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa itulah yang paling baik.”
[Qs. al-A'raaf 26]
Demikian juga firmannya dalam surat Al-Ahzab 59 : “Hai
nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
Karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.’ [Qs. al-Ahzab : 59].
Kesadaran baru ini membimbangkanku waktu itu. Apalagi
menjadi polwan mempersyaratkan tidak boleh berjilbab. Pilihan berat di saat
jiwa mudaku masih begitu bergolak. Antara menjalankan kewajiban menutup aurat,
berhijab atau memilih cita-citaku yang sudah telanjur amat menggebu. Menjadi
polwan adalah kebanggaan. Hanya orang-orang pilihan yang bisa. Sebuah prestise
tersendiri. Terbayang bagaimana decak kagum orang-orang saat memandang
saudaraku. Cantik namun gagah, lelaki pun tak berani menggoda meski amat terpesona.
Ketika itu, dua sisi hati bergulat. Antara mematuhi
perintah Alloh atau mengabaikannya. Dan ternyata aku lebih memilih mengikuti
hawa nafsu. Aku lebih senang menikmati kebebasan masa muda, toh teman-teman
sebaya juga jarang yang menutup aurat. Yang penting sholat, dan puasa tidak
ditinggalkan.
Tak terasa sampai kelas dua SMA aku tetap memilih jalan
membuka auarat. Padahal aku tahu ilmunya, tapi godaan hawa nafsu telah
menghalangiku memilih jalan “ketaatan”. Namun, saat pertengahan semester aku
benar-benar tak bisa lagi mengingkari suara hati. Rasa berdosa begitu dominan
mengisi hari-hariku. Aku gelisah, pikiran pun tak tenang. Rasa takut mulai
merayap pasti. Apalagi ketika mengingat hadist yang menyatakan kebanyakan
penghuni neraka adalah wanita. Juga tentang kisah isro miroj nabi yang
menggambarkan siksaan wanita yang memperlihatkan rambutnya. Aku juga terpikir
kematian yang tak mengenal tua muda, sehat sakit, cantik atau tidak. Ia bisa
datang kapanpun tanpa pernah bisa diduga. Kehadirannya adalah sesuatu yang
pasti pada setiap yang hidup. Oh my God, bagaimana aku mempertanggungjawabkan
ketidaktaatanku ini padaMu, bila aku mati dalam kondisi tidak menjalankan
perintahMu. Sungguh galau hati ini. Kularikan kegelisahan dan kegundahan hati
dengan membaca alquran. Aku yakin alquran adalah penyembuh, obat hati.
Setelah itu, aku betul-betul menjadi tenang. Kupasrahkan
semua pada Alloh, hanya padaNya aku menyembah dan mohon pertolongan. Aku
serahkan jalan hidupku pada Alloh, Sang Pemberi Terbaik. Sesungguhnya semua hal
telah Alloh tetapkan bahkan sebelum penciptaanku. Aku hanya bisa melakukan
hal-hal yang berada dalam “daerah kekuasaanku”, yang aku berkuasa atasnya untuk
melakukan atau tidak melakukan. Seperti firmanNya, sesungguhnya telah
kutunjukkan dua jalan, jalan kebenaran atau kesesatan. Manusia bebas
memilihnya.
Setelah melalui proses pemikiran yang panjang, dengan
segala konsekuensi yang mungkin harus dihadapi, akhirnya aku memilih.
Memutuskan untuk menutup aurat secara syar’ie. Aku tak peduli lagi dengan
cita-citaku menjadi polwan. Sudah kubuang keinginan itu jauh-jauh, terkalahkan
oleh rasa takutku pada Alloh. Yang kutahu Alloh hanya memandang kemuliaan
manusia hanya dari taqwanya, bukan pekerjaan, status sosial atau apapun.
Ujian pertama atas keputusanku langsung ada di hadapan
mata. Saat kusampaikan pada ibunda tercinta, beliau memberiku pilihan. Dengan
keterbatasan finansial yang ada ibunda
mengajukan dua opsi, menutup aurat yang berarti merombak semua seragam, dengan
membuat seragam baru atau ikut studi tour sekolah ke Bali. Pilihanku tetap
mantap untuk menutup aurat. Hingga kini 20 tahun berlalu, dan aku tetap
istiqomah dengan hijab.
Sekarang para Polwan menghadapi masalah yang sama meski
tak serupa. Sama-sama dihadapkan pada sebuah pilihan, antara menjalankan
kewajiban menutup aurat atau tetap membiarkan aurat terbuka. Antara menaati
Alloh atau mematuhi atasan. Antara menjalankan aturan Sang Pencipta Manusia
atau aturan buatan manusia. Seandainya ada pilihan lain yaitu kemudahan
melaksanakan perintah Alloh tanpa kendala, pasti hidup akan lebih mudah. Tapi
itulah hidup, tidak semua sesuai dengan keinginan kita. Harus ada perjuangan
menaklukan hawa nafsu, perjuangan meraih ridhoNya, dan perjuangan mendapatkan
syurgaNya kelak. Tugas manusia hanya satu, yaitu memastikan segala ucapan,
perasaan, pikiran dan perilakunya sesuai dengan hukum syara.
Buat polwanku dan polwan-polwan yang lain aku berdoa,
semoga Alloh memberi kekuatan untuk dapat memilih dan membedakan mana yang haq
dan batil. Semoga Alloh membuka pintu hatimu untuk senantiasa mematuhiNya.
Sesungguhnya hidup mati ada di tangan Alloh. Itu yang setiap hari diucapkan
dalam sholat.
Polwan juga muslimah, manusia yang memiliki kewajiban
yang sama dengan muslimah lainnya di hadapan Alloh. Sama-sama dibebani taqlid
hukum yang sama dari Sang Pemberi Rizqi. Seperti dalam firmanNya :” Tidaklah
aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (TQS
Adz-Dzariyaat 56)
Polwan juga muslimah, punya hati dan rasa yang sama
seperti wanita muslimah pada umumnya. Ingin menjadi wanita sholihah. Ingin
melaksanakan perintah Tuhannya, di tengah keberuntungan muslimah lainnya yang
bebas menjalankan kewajiban menutup aurat tanpa terikat aturan apapun. Ingin
berhijab secara syari dengan pakaian taqwa yang tidak tipis, tidak membentuk
tubuh, dan tidak menyerupai pakaian laki-laki. Ingin anggun tidak hanya di
hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Alloh.
Semoga tak ada lagi aturan manusia yang membelit dan
mengebiri “keinginan taat” para Polwan ini pada Maha Pemilik Hidup. Dan
kalaupun aturan manusia ini tetap tak tergoyahkan, sesungguhnya Polwan juga
muslimah yang merdeka. Ia memiliki pilihan perbuatan yang membentang luas di
hadapan mata. Tinggal mau atau tidak mengambil suatu jalan pilihan itu. Alloh telah
mengingatkan dalam firmannya,” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin
dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang
urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah
dia telah sesat, sesat yang nyata [Qs.Al-Ahzab: 36].
Bila masalah finansial terasa memberatkan, maka
sesungguhnya bumi Alloh luas, dan rizki pun semata dari Alloh datangnya. Bisa
datang dari pintu manapun tanpa terduga. Wallohu a’lam. []
