-"Aku cinta kamu karena Allah"
Cinta, itulah makna singkat yang terkandung di dalam kata-kata tersebut.
Tak
hanya sekadar ungkapan lisan, ia membawa sejuta ungkapan, mewakili
beribu makna, kebahagiaan. Ruh cinta yang ia bawa begitu kuat, sehingga
mampu menghidupkan hati yang kelam, jiwa yang 'mati' dan raga yang haus
akan cinta.
Tak banyak ungkapan cinta yang mampu mewakili
perasaan. Bahkan penyair pun butuh puluhan bait untuk mengungkapkan
cintanya.Tak jarang para pujangga begitu lama berkutat dengan
syair-syair rindu, hanya untuk mengungkapkan rasa cintanya. Tetapi,
kata-kata ini sungguh memiliki kekuatan. Kekuatan dahsyat yang melebihi
jutaan ungkapan cinta, melebihi puluhan bait puisi cinta. Maknanya
dalam, begitu dalam sehingga siapapun yang memahaminya pasti cukup untuk
menentramkan cintanya.
Sayangnya, kata-kata ini bagi sebagian
orang menjadi sosok yang tabu di zaman sekarang. Begitu enggan kita
mengungkapkannya. Senantiasa merasa minder untuk mengungkapkannya.
Padahal ia dahulu adalah tren, tapi kini terlupakan. Hanya mereka yang
benar-benar paham akan kandungan cintanya yang mampu mengungkapkannya.
Itulah mengapa kata-kata ini begitu populer dikalangan para sahabat
Rasul. Mungkin kalau zaman sekarang sudah menjadi trending topic...
Bahkan kisah tentangnya pun tercantum dalam sebuah hadits.
Ketika seseorang sedang berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa
alihi wasallam, bersamaan dengan itu ada orang yang lewat di hadapan
mereka. Lantas ia mengatakan: “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku
benar-benar mencintai orang ini (yang baru saja lewat). maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berkata kepadanya: “Apakah engkau
telah memberitahukan hal tersebut kepadanya?” Ia berkata: “Belum.”
Beliau berkata: “Hendaknya engkau utarakan kepadanya”. Maka ia langsung
mengejar orang itu dan mengatakan “Inni uhibbuka fillah” (sesungguhnya
aku mencintaimu karena Allah), orang tersebut menjawab: “Ahabbakalladzi
ahbabtani lahu” (Semoga engkau dicintai olehNya karena engkau mencintai
aku karena-Nya). (HR. Abu Daud) Begitu dalam perasaan itu, begitu indah
ungkapan itu.
Ungkapan cinta ini bukan sekadar ucapan. Ia mewakili 2 ikatan agung
antara makhluk dengan makhluk dan antara makhluk dengan Penciptanya.
Cintanya terikat dalam naungan Sang Pengasih. Karena pada kalimat yang
demikian itu akan mempertemukan kecintaan di dalam hati, dan seorang
insan jika ia mengetahui bahwa engkau mencintainya, maka ia akan
membalas cintanya kepadamu. Juga doa yang dibalaskan pada hadits tadi
menandakan buah cinta mereka tidak lain hanya untuk mengharap ridha dan
kasih dari San Khaliq. Begitulah Rasul sallahu'alaihi wasallam memberi
perumpamaan kepada kita tentang kuatnya arti ungkapan cinta, "Ruh-ruh
adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal
akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih"
(Muttafaqqun'alaih)
Inni uhibbukum fillah, sesungguhnya saya mencintai kalian karena Allah.
Itulah
mengapa seorang anis matta begitu tulus mengungkapkan kalimat cinta itu
kepada orang-orang yang ia cintai, kepada kader-kadernya. Bahkan disaat
hatinya begitu pilu akibat peristiwa yang dilanda partainya. Semua itu
tidak lain karena ia sungguh ingin mengungkapkan perasaannya yang begitu
menggelora. Ungkapan yang tidak hanya bisa menyatukan hati
saudara-saudaranya untuk tetap teguh, untuk tetap tulus, lebih dari itu
karena ia yakin hanya ungkapan inilah yang mampu meluapkan seluruh
perasaan beliau kepada saudara-saudaranya. Sehingga kata-kata ini
menjadi cukup untuk menghembuskan cintanya yang begitu besar.
Saudaraku,
sudah cukup kita tenggelam dalam pengaruh musuh-musuh islam. Karena
kebencianlah mereka menghapus cinta itu diantara kita. Karena dengkilah
mereka menjadikan cinta itu buta diantara kita, sehingga kita saling
beradu pandang dan saling menuduh, berpecah belah. Berapa besar cinta
sejati yang sudah kita sampaikan kepada saudara kita?
Inni uhibbukum fillah, sesungguhnya saya mencintai kalian karena
Allah. Karena hanya kata-kata itu yang mampu mewakili perasaan cintaku
kepada kalian.
http://ojielem.blogspot.com/2013/03/uhibbukum-fillah-tren-lama-yang.html
Twitter: @oji_el via @dakwatuna
